Selasa, 05 Agustus 2014

Kisah Nyata Sakaratul Maut

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. 

Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.


Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.

Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.

Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.

Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.

Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.

Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.

Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…

Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.

Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.

“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.


Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…

Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : ["Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab"; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48].
Ditulis ulang oleh akhwatmuslimah.com

Ketika Sahabat Menjadi Penghianat

Tinggal menghitung hari, UN pertama akan aku hadapi. Tepatnya UN waktu SD. Namaku Putri Adelia, aku mempunyai sahabat baik yaitu Nita, Lisa dan Nasya. Lisa dan Nasya adalah saudara kembar. Rencananya kami akan melanjutkan ke SMPN Favorit.
Ujian pun ku jalani selama 3 hari… Detik-detik pengumuman kelulusan pun datang. Semua murid kelas 6 tegang, dan akhirnyaaa… semua murid lulus “Alhamdulillah” ucapku bersyukur.
Sebagian besar teman-temanku melanjutkan sekolah ke SMPN Favorit. Masa orientasi kujalani selama 5 hari. Hari pertama di sekolah pun ku mulai, ketika aku masuk kelas, ternyata Nita, Lisa, Nasya sudah ada di dalam kelas. “hay Put!!” sapa Lisa “hay Lis!!” jawab ku, “oh ya, ngomong-ngomiong aku duduk dimana?” tambah ku, “duduk samping aku aja, lagian Lisa sama Nasya udah duduk sebangku.” Jawab Lisa, “iya Put” kata Lisa dan Nasya, “oke deh” kata ku.
Sekarang aku bukan kelas 6 lagi, aku sudah kelas 7, tepatnya kelas 7C, di dalam 7C terdapat 36 anak, tidak semua yang ada di kelas 7C berasal dari sekolah asalku, tapi banyak juga yang dari sekolah lain, berkat itu, aku mempunyai teman baru, tapi aku dan ketiga sahabat ku lebih dekat dengan Aya, Gina dan Intan.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, tak terasa sudah 3 bulan aku di sekolah ini. Satu minggu lagi menjelang UTS, segala sesuatu telah aku siapkan. Hari Senin, setelah pulang sekolah aku punya janji dengan Nita, untuk mempersiapkan UTS. setelah ku tunggu 10 menit Nita datang “maaf ya Put, aku telat…” ucapnya meminta maaf, “nggak apa-apa kok Nit..!!” kataku, “yuk masuk” ajakku, “oke”
Aku dan Nita menuju kamarku, sesampainya di kamarku “memang Lisa sama Nasya gak kesini juga?” tanyanya, “enggak, katanya sih mau ke mall, nyari hawa” “terus kenapa kamu nggak ikut?” “males jalan, capek nggak punya duit juga hahaha” gimana kalau ntar aku traktir kamu?” “oke, aku mau! Tapi setelah belajar” aku dan Nita langsung belajar dengan semangat. Aku dan Nita sama-sama menyukai pelajaran matematika.
Tak terasa sudah satu setengah jam aku belajar “yuk Put!!” ajak Nita, “yuk, tapi aku ganti baju dulu ya” “ok” jawab Nita. Setelah 5 menit aku pun selesai ganti baju. Aku dan Nita langsung meluncur ke salah satu mall di kotaku, tempat tak begitu jauh dari rumahku. Kira-kira 15 menit taxi yang kami tumpangi akhirnya sampai di mall Ciputra. “kita mau belanja dulu atau mau makan dulu?” tanyaku, “makan dulu aja deh..!! aku laper ntar baru shopping” jawabnya, “ok deh” yaah memang kami begitu, satu sama lain saling menraktir. Hehehe.
Kami menuju ke salah satu resto. Kami duduk di meja no. 6 bersama Nita, “selamat sore.. mau pesan apa mbak?” ucap pelayan dengan senyum ramah. “aku pesen milk tea sama sosis BBQ aja deh mbak” ujar Nita pada pelayan tersebut, “kalau aku sama aja deh, tapi minumnya orange juice”, “baik, saya ulangi ya mbak sosis BBQ 2, milk tea 1, orange juice 1″ ulang pelayan tersebut tunggu 15 menit mbak, nanti kalau ada yang ditambahkan panggil saya aja mbak, terimakasih..” ucapnya dan segera meninggalkan meja kami, “Put, bukannya itu Lisa dan Nasya?” “mana?” tanyaku bingung “itu, tepat di depan kita” “itu, mereka mau kesini” ucap Nita, “gak pa pa, biarin aja,”
Tapi tiba-tiba mereka mengurunkan niatnya untuk makan karena lihat aku dan Nita sedang makan. Apa yang salah? Kenapa? Aku tak tahu, entahlah, aku bingung dan tiba-tiba nafsu makanku hilang “kamu kenapa Put?” “gak kenapa-napa kok” jawabku dengan nada tertekan.
Setelah makan, kami menuju ke salah satu butik di sana. Nita memilih-milih baju untuk kami berdua “bagus nggak?” “bagus kok” jawabku. “mbak ini dong, 2 ya” “iya mbak” jawab salah satu pelayan. Nita langsung menuju ke kasir dan membayar kedua baju tersebut.
Keesokan harinya aku berangkat dari rumah 06.30. Sesampainya di sekolahan aku menuju ke kerumunan anak di mading. “ooohhh, pembagian ruang” batinku dalam hati, dan langsung melihat namaku ‘Ruang 2’. “kamu ruang berapa Put?” suara Nita mengagetkanku, “aku ruang 2, kamu” “waah, sama dong”, ntar pulang sekolah main ke rumahku yukk!” ajak Nita, “oke”.
Aku dan Nita langsung masuk kelas. Sesampainya di kelas, Pak Susilo menyampaikan beberapa hal ke kami dan pembagian kartu UTS. “aku kok ngerasa nggak enak sama Nasya dan Lisa?” pikirku, bel pulang berdering, aku segera menghampiri Nasya dan Lisa, “kalian kenapa sih, kok sinis sama aku?” mereka berdua tak menjawab pertanyaanku dan langsung pergi meninggalkan ku. Aku dan Nita meluncur ke rumah Nita. Seperti biasa, jika UTS aku selalu belajar 3 kali sehari.
Setelah satu minggu UTS aku hadapi, tak pernah sekali pun aku berbincang-bincang dengan Lisa dan Nasya. Aku ngerasa mereka menjauh dariku. Hari selanjutnya, ku awali dengan senyuman, berharap hariku seindah senyumanku. Hari-hari di sekolah ku jalani seperti biasanya. Pulang sekolah, aku langsung menuju ke kamar kesayangan ku untuk beristirahat. Tiba-tiba, aku dengar suara “sepertinya ada orang yang bertengkar di ruang tengah” gumamku. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ke ruang tengah. Ternyata kedua orangtuaku sedang bertengkar. Aku hanya diam melihat kedua orangtuaku, seakan-akan semua anggota badanku tak bisa digerakkan. Aku tak tahu sebab mereka bertengkar “Ya Allah, cobaan apa yang engkau berikan kepadaku?”
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah seperti biasanya. Aku ingin menceritakan semuanya kepada Nita, tapi kelihatannya Nita lagi sibuk mempersiapakan UTS susulan, karena dia sempat sakit waktu UTS. Aku mencoba untuk dekat lagi sama Lisa dan Nasya, tapi mereka tetap saja menjauh dariku, batinku berbicara “apa salahku? apa? kenapa mereka menjauhiku?” aku memikirkan hal itu terus-menerus, padahal dulu kita bersahabat dengan baik, kenapa sekarang jadi begini?”
Hari-hari ku lewati dengan kesedihan, karena sifatku yang sekarang yang menyendiri karena masalahku, Nita lama-lama juga menjauhiku, aku semakin bingung. Sekarang Nita malah bersahabat dengan Gina. Yaa… Gina adalah teman sekelasku. Aku terus berfikir “apa salahku?” 2 hari yang lalu, Nasya dan Lisa pindah sekolah. Aku pun tak tau, mereka pindah kemana dan tak tau kenapa mereka pindah, mungkin ayah mereka pindah keluar kota karena suatu pekerjaan.
Keesokan hari di sekolah, “hai Nit!” sapaku, “hai” jawab Nita sinis, aku mencoba tetap tersenyum walau hati ini menangis “kamu mau kemana?” tanyaku basa-basi, “mau masuk kelas” jawabnya sambil meninggalkanku. Aku menyusul Nita untuk masuk kelas dan menghampiri Nita, “Nit, kamu kenapa? Kelihatannya sekarang kamu menjauhiku” tanyaku pada Nita, “enggak kenapa-kenapa kok” jawabnya cuek, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya diam mematung. Nita pun meninggalkanku.
Dari pelajaran pertama sampai pelajaran terakhir, tak ada satu pun pelajaran yang aku perhatikan, dan pada pelajaran terakhir, “Putri…!! Coba ulangi apa yang tadi ibu jelaskan!” ucap ibu Nada(guru fisika) mengagetkanku “haaa? Apa bu?” Tanyaku kaget “ulangi apa yang ibu jelaskan tadi!!” “saya belum faham buu…” kata ku malu, “Makanya, kalau dijelaskan, jangan ngelamun terus..” “Iyaa Bu..”. Tteeettt… tteeett.. Bel sekolah pun berbunyi, pertanda sekolah telah usai. Biasanya, aku pulang ndengan Nita, sekarang aku pulang sendirian, dan Nita pulang bersama Gina. “Hai Put..?” Sapa Aya dan Nita, “Oh, Hai..” jawabku kaget, “Kamu tadi kenapa kok ngelamun di kelas..?” “Aku hanya ada sedikit masalah” kata ku, “Masalah apa?” Tanya Aya, “Kapan-kapan aku ceritain..” “Ok deh kalau begitu” Ucap Aya dan Intan bersamaan. Aku, Aya dan Intan, pulang bersamaan.
Pulang sekolah, aku langsung ke kamar, aku tak melihat kedua orangtua ku di rumah. Aku tak memikirkannya, aku langsung ke kamar untuk belajar, karena besok jadwal untuk remidi UTS, aku takut nilai ku di bawah KKM.
Hari pun sudah berganti, aku bersiap-siap untuk ke sekolah. Tokk.. Tookk.. Toookkk… “Seperti ada yang mengetuk pintu” kata ku, Aku langsung ke depan dan melihat siapa yang datang. Ternyata Aya dan Intan yang datang. “Pagi Putri..!!” Sapa mereka, “Pagi..” Balas ku, “Berangkat bareng yuk..” Ajak Aya, “Ayo..”. Aku sengaja tak makan di rumah, selama beberapa hari saat orangtua ku mulai bertengkar. Aku hanya makan jajan-jajan yang ada di kantin sekolah.
Sesampainya di sekolahan, aku langsung masuk kelas dan melihat semua teman sekelas ku mengerubungi Mading kelas, “Ada apa ini..?” Tanya ku pada Intan dan Aya, “mungkin ada nilai UTS kemaren” Jawab Intan, “Ayo kita lihat!” Ajak Aya. Dan ku lihat nama ku, ADELIA PUTRI. “Astaghfirullahal Adzim..” “Ada apa Put..?” “Nilai ku banyak yang di bawah KKM..” jawab ku sedih, “sabar Put, Kamu jalani aja dengan ikhlas, pasti kamu bisa..” Kata Aya menyemangati ku, Aku hanya tersenyum kecil. Ternyata, bayangan ku kemarin kalau nilai ku banyak yang di bawah KKM ternyata benar. Selama ini aku nggak pernah mendapatkan nilai yang sejelek ini. Untungnya, kemarin aku belajar, jadi remidi dengan 4 pelajaran, hanya ku jalani dengan waktu setengah hari.
“Putri..!!” Panggil Aya, “Apa Ya..?” “Kamu udah remidi?” Tanyanya, “Udah” “kita ke kantin yuk..!” Ajak Intan, “Ayo, Oh iya, kalian lihat Gina nggak?” Tanya ku sambil berjalan ke kantin, “lihat..!!” jawab mereka, “Dia tadi sama siapa?”, “Sama Gina”, “Ujar Intan”. Aku langsung menunduk dan sedih, tapi Aya dan Intan selalu menghibur ku.
Sesampainya di kantin, semua anak yang di kantin melihat ku, Aku bingung, lalu, aku bertanya pada Intan dan Aya, “kenapa semua melihat aku..?” “kita nggak tau..” jawab mereka. Salah satu dari mereka (yang melihat aku) berkata “Hei Putri..!!!! Anak kurang kasih sayang!!! Kasih sayang hanya berupa uang!! Orangtua selalu bertengkar!!! Kasian banget sih, hidup loe..!!” mendengar hal itu, aku tak kuasa membendung air mata ini, dan air mata ku jatuh menetes membasahi pipi ku, “sabar Put.. Kamu pasti kuat menghadapi hal ini” Suara Intan yang bermaksud untuk menyemangati ku, “Iya Tan..” Ucap ku sambil meneteskan air mata, “Kira-kira siapa yang memberitahu mereka siapa yaa Put..?” “Aku tak tahu, yang ku tahu, aku bercerita tentang hal ini hanya kepada Nita.” “Apa? Nita?!, bukannya Nita teman baik mu?” Tanya Aya, “Memang sih, tapi akhir-akhir ini sedang menjauhi ku..” jawabku dengan nada sedih
Tak terasa, bel pulang sekolah berbunyi. Aku bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku menaruh kertas hasil UTS ku di meja ruang tengah, agar orangtua ku melihat semua hasil UTSku yang di bawah KKM. Aku langsung menuju ke kamar mungilku. Rasanya badanku terasa nggak enak, aku memutuskan untuk tidur. Bangun tidur, aku melihat ke-2 orangtuaku di hadapanku. “Putri udah bangun?” Tanya ibuku, “udah Bu!” “Putri kok kelihatannya pucat?” tanya ayah, “masa sih yah? Putri rasa, putri baik-baik aja kok”. Ibu memegang dahiku dan katanya badan ku panas. “ibu, ayah putri mohon ibu dan ayah jangan bertengkar lagi” pintaku “iya Put, tapi kamu harus ke dokter ya!” aku hanya mengangguk.
Setelah ke dokter, ayah dan ibuku baikan, aku seneng banget, walau masalah dengan sahabatku belum selesai, tapi aku sudah sangat bersyukur.
Aku sempat tak masuk sekolah 2 hari, kring kring… hpku berbunyi, pertanda ada sms, ternyata sms dari intan “hai putt…! Kamu sakit apa? Nanti pulang sekolah aku ke rumahmu ya?” “aku Cuma sakit panas kok! Boleh, ku tunggu ya” balasku “oke put…”
Tak terasa udah jam 2 dan bentar lagi intan ke rumahku. Tok tok tok… “masuk…” kataku, dan yang datang ternyata Intan dan Aya. “mana Nita?” “Nita tadi udah pulang duluan, katanya sih mau shoping sama Gina” “oooh” jawabku singkat “oh ya kalian udah tau siapa yang nyebar berita kemarin?” “ternyata yang nyebar berita itu Nita Put..” aku tak bisa menjawab, aku terdiam sejenak “Putriii…!!!” “hah? Ada apa?” jawabku kaget “gak papa kok”. Setelah kami berbincang bincang cukup lama, Aya dan Intan pun berpamitan untuk pulang “kita pulang dulu ya Put” “oh ya Tan”
Hari selanjutnya, aku sudah merasa sehat, dan aku pun memutuskan untuk sekolah juga bermaksud untuk membicarakan tentang hal kemarin pada Nita. Sesampainya di sekolahan “Nita” “apa?” “maksud kamu apa? Nyebarin aibku? Selama ini aku udah percaya sama kamu, sekarang kamu malah khianatin aku!! Apa salahku? Aku kira kamu sahabat yang baik” ucapku sambil menahan tangis “kamu yang salah, dulu kamu lebih suka menyendiri, kamu egois Put!” “aku menyendiri karena aku punya masalah!” “kalau kamu punya masalah, kenapa gak cerita sama aku?” “aku takut kamu ikut kepikiran tentang masalahku dulu” jawabku sambil lari ke kamar mandi, aku menangis di kamar mandi.
Teeettt… Teeettt.. Bel masuk kelas berbunyi. Aku langsung masuk kelas dengan mata sembab. Beberapa pelajaran telah berlalu, dan waktunya pulang. Kali ini aku pulang bersama Intan dan Aya “Putri yang sabar yaa…” ucap Aya “kami mau kok jadi sahabat kamu, kami nggak akan nyakitin kamu” kata Intan, “iya Puttt…” tambah Aya “janji! Sahabat untuk selamanya” kataku dengan senyuman “janji Puttt” ujar Intan, “nahhh… Gitu donk senyum” tambah Aya.
Sekaranng aku akan lebih berhati hati dengan sahabat sahabatku, aku tak mau hal yang sama terulang lagi. Aku, Intan dan Aya sekarang menjadi sahabat baik. Gina dan Nita juga sudah berteman, Nasya dan Lisa di luar kota, mungkin mereka juga sudah punya sahabat sendiri, aku tak mau mengganggu persahabatan Nita dan Gina, walaupun hatiku sakit kalau melihat mereka sedang bermain bersama. Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, namun mereka yang tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.
Cerpen Karangan: Ifada Al Ummah
Sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/ketika-sahabat-menjadi-penghianat.html

Pentingnya Pendidikan Bagi Semua Orang


Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan
keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain.
Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik . Alangkah pentingnya pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .
Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik . Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik,dan  tidak terdidik. Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengembangkan ilmu yang didapat sehingga tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman. Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.
Sumber: http://no3vie.wordpress.com/pentingnya-pendidikan-bagi-semua-orang/

Manfaat Silaturahmi di bulan Ramadhan

Silaturahmi merupakan hal yang paling penting, apalagi saat bulan ramadhan. Silaturahmi dapat menyambung rejeki, memberikan perubahan pada sifat seseorang, dan mampu memberikan petunjuk bahwa hidup itu harus saling mengerti dalam kebersamaan.

Dalam bahasa setiap hari, silaturahmi merupakan cara memohon maaf dan memberikan maaf kepada orang yang pernah melakukan kesalahan, atau memberikan kebaikan dan sambutan yang baik kepada orang yang dulunya menjadi oposisi atau berbeda pandangan. Sehingga silaturahmi itu sangatlah penting di perlukan untuk menyambung tali persaudaraan.

Dalam ajaran islam, Rosullullah bersabda," Yang disebut silaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu adalah menyambungkan apa yang telah putus".

Oleh sebab itu sangatlah penting bagi kita semua untuk menyaradari bahwa silaturahmi tidak hanya merekayasa saja, namun harus melibatkan aspek perasaan atau hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, akan memiliki kekuatan untuk berbuat baik dan lebih bermutu daripada apa yang dilakukan oleh orang lain.

Siapa saja yang wajib untuk bersilaturahmi?. Jawabannya adalah kita semua. Baik orang muda maupun tua mereka harus meredam amarah orang lain dengan silaturahmi. Karena dengan meredam amarah dengan silaturahmi inilah yang akan membantu kehidupan ini menjadi lebih baik.

Jika ditanya kapan silaturahmi itu dilakukan?. Jawabnya adalah saat seseorang mendapatkan kelonggaran dalam melakukan aktivitas. Jika orang yang anda ingin silaturahmi itu sedang bekerja, maka sebaiknya ditunda dulu untuk silaturahmi. Jika pekerjaannya selesei, biasanya waktu sore hari, maka anda diperbolehkan untuk bersilaturahmi kepada orang lain.

Ini dikarenakan silaturahmi dapat membantu terciptanya keharmonisan dalam berhubungan sosial. Memiliki pandangan kuat, serta dapat membantu pembentukan hati yang jernih. Kebaikan akan terus terjaga hingga akhirnya membentuk kehidupan yang lebih baik. Silaturahmi membantu datangnya rejeki dan membantu mengecilkan permasalahan.

Dalam bulan ramadhan ini sendiri silaturahmi sangat diperlukan untuk memberikan rasa syukur dan berkah yang didapat ketika bersilaturahmi dengan berbuka bersama. Dengan berbuka bersama maka kearifan dalam bersilarutahmi terjaga dan memberikan banyak pengaruh yang begitu penting dalam bertindak. Sehingga rasa persaudaraan itu ada dan tidak akan putus selamanya.

Kemudian bagaimana manfaat silaturahmi pada saat bulan ramadhan. Yaitu memperbanyak rejeki, memberikan pengaruh terhadap rasa syukur yang mendalam, membantu pembentukan iman, selalu merasa baik dan memiliki prasangka baik terhadap lingkungan, selalu waspada terhadap hal yang baik dan kurang baik, dan sebagainya. Kebaikan akan terjaga dan terus melakukan perbuatan yang terpuji ketika silaturahmi itu dilakukan dengan terus menerus selama bulan puasa..

Sumber: articemerlang.blogspot.com/.../manfaat-silaturahmi-di-bulan-ramadhan